Sejarah Nagari

Menurut riwayat yang dipercaya di Minangkabau, tatkala alam Minangkabau belum bernegeri, nenek moyang pada dahulunya bertempat di puncak gunung Merapi yang merupakan sebuah pulau.Begitu pula dengan  yang masih berbentuk hutan belukar sampai pada abad ke-17 berdatanglah orang-orang yang menurut sejarah ada hubungan dari Pagaruyung dengan mendirikan teratak-teratak kemudian menjadi dusun akhirnya menjadi kampung.

Pada waktu penjajahan Belanda mengembangkan daerah penjajahannya sampai kemudian mendirikan sebuah pemerintahan dengan menggabungkan seluruh kampung dan penghulu, kemudian mengangkat seorang Penghulu Kepala dengan syarat harus dari keturunan raja Minangkabau. Untuk pemilihan ini dilaksanakan disuatu tempat yang kebetulan tumbuh pohon kayu Bayur ( tempatnya di Lubuak Gadang ) maka inilah asal nama dari Nagari Bayua .

Merupakan salah satu nagari yang berada  di Kecamatan Tanjung Raya yang  sejak dahulu kehidupan berdemokrasi telah ada dimana telah diadakannya Pemilihan Kepala Desa tahun 1952 dan pada tahun 2002  dimulainya  pemilihan Wali Nagari ( Babaliak ka Nagari).

Kondisi sosial masyarakat nagari Bayua yang mempunyai kehidupan yang terus berkembang seiring meningkatnya perekonomian masyarakat. Ini dapat dilihat dari tata cara kehidupan masyarakat yang sudah tidak tertinggal lagi, masyarakat yang benar-benar miskin sudah bisa dikatakan menurun setiap tahunnya.

Nagari Bayua juga merupakan nagari yang mempunyai daerah kedua terluas di Kecamatan Tanjung Raya yang memiliki 10 jorong (yakni Jorong Kampung Jambu, Jorong Sungai Rangeh, Jorong Panji, Jorong Jalan Batuang, Jorong Sawah Rang Salayan, Jorong Pincuran Tujuah, Jorong Lubuak Kandang, Jorong Banda Tangah dan Jorong Lubuk Anyia) dan terdapat 44 penghulu dengan kebesaran gelar –gelar yang sampai sekarang menjadi pusaka turun menurun terdiri dari 6 ( enam ) pasukuan yaitu Suku Guci, Pili, Caniago, Tanjung, Koto  dan Melayu.